

Oleh: Kiyai Wasan . Ketua Tahfidzin Desa Keleng
Perkembangan teknologi di era modern ini melaju dengan kecepatan yang tak terbayangkan sebelumnya. Kehadiran Media Sosial yang kian masif, ditambah dengan lompatan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan, telah merubah wajah peradaban. Bagi generasi muda, teknologi ini bukan sekadar alat, melainkan bagian dari identitas dan gaya hidup sehari-hari.
Namun, di balik kemudahan berinteraksi dan mencari informasi, tersimpan tantangan besar yang mengancam fondasi moral anak-anak kita. Kemudahan mengakses AI untuk mengerjakan tugas, hingga paparan algoritma media sosial yang tanpa henti, memunculkan krisis baru: krisis etika dan adab.
Lantas, bagaimana kita sebagai umat Islam dan jamaah masjid membentengi karakter generasi muda kita di tengah badai digital ini?
Dalam tradisi keilmuan Islam, ada satu kaidah emas yang diajarkan oleh para ulama terdahulu: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” (Imam Malik rahimahullah).
Di era AI, ilmu pengetahuan dan data bisa didapatkan hanya dalam hitungan detik. Sebuah mesin bisa merangkai kata dan menjawab pertanyaan lebih cepat dari manusia. Namun, ada satu hal yang tidak dimiliki oleh AI, yaitu Hati Nurani dan Adab.
Kecerdasan Buatan tidak bisa mengajarkan empati, rasa hormat kepada orang tua, kejujuran, dan rasa takut kepada Allah SWT (Muraqabah). Oleh karena itu, penguatan karakter berbasis adab menjadi tameng utama bagi generasi muda.
Untuk menghadapi pesatnya media sosial dan AI, ada tiga prinsip akhlak Islami yang harus ditanamkan kepada generasi muda:
Masjid tidak boleh tertinggal oleh zaman. Masjid harus kembali memposisikan dirinya sebagai pusat pendidikan (Tarbiyah) bagi generasi muda.
“Teknologi adalah alat, bersifat netral. Di tangan generasi yang nir-adab, ia menjadi senjata penghancur. Namun di tangan pemuda yang beriman, ia menjadi kendaraan dakwah yang luar biasa.”
Beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan oleh lingkungan masjid dan keluarga antara lain:
Kita tidak bisa dan tidak perlu menghentikan laju teknologi. Tugas kita bukanlah menjauhkan generasi muda dari media sosial atau AI, melainkan membekali mereka dengan “kompas moral” yang kuat. Dengan fondasi keimanan dan adab yang kokoh, generasi muda Islam tidak akan tergerus oleh teknologi, melainkan merekalah yang akan mengendalikan teknologi tersebut untuk kebaikan umat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
| Luas Area | 100 m2 |
| Luas Bangunan | 90 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1985 |